FORMALIN

PENGGUNAAN FORMALIN PADA BAHAN PANGAN

Formalin adalah nama dagang larutan formaldehid dalam air dengan kadar 30-40 persen. Di pasaran, formalin dapat diperoleh dalam bentuk sudah diencerkan, yaitu dengan kadar formaldehidnya 40, 30, 20 dan 10 persen serta dalam bentuk tablet yang beratnya masing-masing sekitar 5 gram.
Formalin biasa digunakan dalam industri tekstil, plastik, kertas, cat, kontruksi, dan untuk mengawetkan mayat.
Penggunaannya untuk bahan pangan dilarang karena tidak sesuai dengan Undang Undang Pangan Nomor 7 Tahun 1996 dan PP Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu, dan Gizi Pangan. Sedangkan tatacara
perniagaannya diatur dengan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 254/MPP/Kep/7/2000.
Jika ketahuan memasukkan formalin ke dalam bahan makanan, produsen makanan diancam penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 600 juta. Selain itu mereka juga dianggap melanggar UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan ancaman hukuman penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 2 miliar.

Formalin dalam bahan pangan tidak dapat dihilangkan dengan mencuci dan merendam produk makanan tersebut dengan air panas bersuhu 80 derajat Celsius selama lima hingga sepuluh menit. Meski terjadi penurunan kadar, namun masih terdapat kandungan formalin. Jadi, disimpulkan kandungan formalin tidak bisa dihilangkan.

Efek Formalin Bagi Kesehatan

Formalin merupakan bahan beracun dan berbahaya bagi kesehatan manusia. Jika kandungannya dalam tubuh tinggi, akan bereaksi secara kimia dengan hampir semua zat di dalam sel sehingga menekan fungsi seldan menyebabkan kematian sel yang menyebabkan keracunan pada tubuh.
Pada prinsipnya, senyawa Formalin yang biasanya digunakan sebagai bahan pengawet mayat dapat bereaksi dengan asam amino yang menyebabkan protein terdenaturasi, sehingga Formalin akan bereaksi cepat dengan lapisan lendir saluran pernafasan dan saluran pencernaan. Dari segi fisiknya, uap formalin yang terkontak secara langsung akan mengakibatkan iritasi mata, hidung, esophagus dan saluran pernafasan.
Dalam konsentrasi yang tinggi akan mengakibatkan kejang-kejang di sekitar pangkal tenggorokan. Yang menjadi masalah adalah kandungan bahan pengawet Formalin akan segera bereaksi dengan cepat dalam saluran dan organ pencernaan apabila kondisi perut dalam keadaan kosong. Selain itu, pemakaian formalin dalam makanan dapat menyebabkan keracunan pada organ fungsional tubuh manusia. Hal tersebut ditandai dengan gejala sukar menelan, nafsu makan berkurang, mual sebagai reaksi penolakan dari lambung,sakit perut yang akut sebagai reaksi penolakan dari hati, lambung dan usus besar, diare dan pada akhirnya disertai dengan muntah-muntah. Pada tingkat yang parah akan mengakibatkan depresi pada susunan syaraf atau gangguan peredaran darah.
Beberapa penelitian pada tikus percobaan sangat mendukung dampak negative asupan Formalin terhadap organ pencernaan. Jika pada mamalia tingkat rendah saja dapat berakibat fatal, apalagi pada manusia.
Berdasarkan sifatnya yang karsinogenik, jika konsentrasi Formalin dalam tubuh tinggi, maka akan bereaksi secara kimia dengan hampir seluruh sel penyusun tubuh sehingga menyebabkan kerusakan sel dan bahkan mutasi sel yang memicu berkembangnya kanker, setelah terakumulasi dalam waktu yang relative lama dalam tubuh. Selain itu, kandungan formalin yang tinggi dalam tubuh juga menyebabkan iritasi lambung, alergi, bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker) dan bersifat mutagen (menyebabkan perubahan fungsi sel/jaringan).

Bahan Pangan yang mengandung Formalin

Hasil pengujian BB POM di Jakarta pada November-Desember 2005 terhadap 98 sampel produk makanan yang dicurigai mengandung formalin. Sebanyak 56 sampel positif mengandung formalin. Dari 23 sampel mi basah dan kriting, 15 sampel positif mengandung formalin. Demikian juga ikan asin dari 34 sampel, sebanyak 22 sampel positif. Sedangkan tahu dari 41 sampel, 46,3 persen positif berformalin.
Ada 8 merek mie dan tahu yang termasuk dalam 56 dari 98 sampel makanan yang positif mengandung
formalin. Delapan merek itu adalah: Mie Kriting Telor Special Super Mie Ayam ZZ, Mie Bintang Terang, Bakmi
Super Kriting Telor ACC, Mie Kriting Jo’s Food, Mie Aneka Rasa, Tahu Bintang Terang, Tahu Kuning Sari, dan
Tahu Takwa Poo yang diproduksi di Kediri.
Untuk mengelabui konsumen, produsen Tahu Kuning Sari tidak segan-segan membubuhkan tulisan di bawah
kemasan dengan kata-kata “Bebas formalin dan boraks”. Sementara di kemasan Tahu Takwa Poo tercantum
nomor register dari Depkes RI. “Produk-produk ini bisa lolos karena waktu minta izin, barang yang diajukan
tanpa formalin dan boraks, sehingga mereka dapat izin,” ungkap Kepala BB POM Jakarta Atiek Harwati,
Selasa (27/12).
BPOM Pusat juga mengumumkan bahwa berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap sekitar 700
sampel tahu, mie basah dan ikan asin yang diambil dari Pulau Jawa, Sulawesi Selatan dan Lampung awal
bulan ini dan 56 persen di antaranya mengandung formalin. “Bahkan, 70 persen mie basah mengandung
formalin,”.
BPOM menemukan di supermarket besar di Indonesia juga menjual mi basah yang diawetkan dengan
formalin. Setelah diuji kemudian dicuci, ternyata masih ada residu. Formalin bersenyawa dengan mi basah,
sehingga setelah dicuci pun ternyata masih terdapat kandungan formalinnya.
Para penggemar hidangan ikan segar kini harus meningkatkan kewaspadaan juga. Departemen Kelautan dan
Perikanan, baru-baru ini, mengakui masih banyak nelayan menggunakan formalin buat mengawetkan ikan
hasil tangkapan mereka. Ini lantaran obat pengawet jenazah itu dinilai lebih murah untuk mengawetkan ikan
segar ketimbang menggunakan es.
Tidak hanya itu, di beberapa pasar tradisional ayam potong pun kini banyak menggunakan formalin agar tidak
mudah layu dan tahan lama. Cara penggunaanya yaitu dengan cara merendam ayam yang telah dibersihkan
ke dalam larutan formalin, sehingga ayam pun keliahatan tetap segar dan tidak cepat membusuk.
Makanan yang mengandung formalin Hasil pengujian sampel Balai Besar POM di sejumlah pasar dan
supermarket di Jakarta:
1. Ikan asin sotong
2. Ikan asin sange belah
3. Ikan teri medan
4. Tahu segar kuning
5. Bakmi supoer keriting telor ACC
6. Bakmi keriting telor SR
7. Mie keriting Jo’s Food
8. Ikan sepat
9. Ikan cucut daging super
10. Ikan sepat (kering)
11. Ikan tipis tawar
12. Ikan teri
13. Ikan cumi kering
14. Mie basah
15. Tahu kuning
16. Tahu kuning sari
17. Mie bintang terang
18. Tahu bintang terang
19. Mie aneka rasa
20. Cumi tawar
21. Jambal roti
22. Tahu segar putih kecil
23. Tahu segar putih besar
24. Spesial mie ayam AA
25. Spesial super mie ayam ZZ
26. Mie deli cia
27. Mie Jo’s Food
28. Mie basah
29. Tahu putih
30. Tahu kuning
31. Tahu putih
32. Tahu Cina tanpa nama
33. Mico tahu telur
34. Kong Kee tahu sutra
35. Tahu cina tanpa nama
36. Kwie tiau aneka rasa

Ciri makanan berformalin
Berikut beberapa ciri makanan yang mengandung formalin :

Tahu
Untuk mengetahui secara pasti adanya formalin dalam produk pangan, khususnya tahu, baik secara kualitatif
maupun kuantitatif secara akurat hanya dapat dilakukan di laboratorium dengan menggunakan pereaksi kimia.
Namun secara umum, untuk mengetahui tahu tersebut mengandung formalin atau tidak adalah sebagai
berikut:
Semakin tinggi kandungan formalin, maka tercium bau obat yang semakin menyengat; sedangkan tahu tidak
berformalin akan tercium bau protein kedelai yang khas;
Tahu yang berformalin mempunyai sifat membal (jika ditekan terasa sangat kenyal), sedangkan tahu tak
berformalin jika ditekan akan hancur;
Tahu berformalin tidak rusak sampai tiga hari pada suhu kamar (25 derajat celcius) dan bertahan lebih dari 15
hari pada suhu lemari es, sedangkan yang tak berformalin paling hanya tahan satu dua hari.
Tekstur permukaan lebih halus
Tahu yang memakai pewarna buatan dapat ditandai dengan cara melihat penampakannya. Jika tahu
memakai pewarna buatan, warnanya sangat homogen/seragam dan penampakan mengilap. Sedangkan jika
memakai pewarna kunyit, warnanya cenderung lebih buram (tidak cerah). Jika kita potong tahunya, maka
akan kelihatan bagian dalamnya warnanya tidak homogen/seragam. Bahkan, ada sebagian masih berwarna
putih.*

Ayam Potong
Untuk ayam potong berformalin ciri-cirinya adalah:
mempunyai warna daging yang lebih putih
tidak mudah busuk.
tidak ada lalat yang mau hinggap.
Jika kadar formalinnya banyak, ayam agak sedikit tegang (kaku).
Yang paling jelas adalah jika daging ayam dimasukkan ke dalam reagen atau diuji laboratorium, nanti akan
muncul gelembung gas.
Para pedagang biasanya membubuhi formalin dengan kadar minimal, sehingga konsumen pada umumnya
bingung ketika harus membedakannya dengan bahan pangan segar. Pada daging ayam yang hanya dibubuhi
sedikit formalin, bau obat tidak tercium.

Ikan Basah
Ciri Ikan yang telah direndamformalin:
bermata merah,
insang pucat, dan
tekstur daging yang kenyal.
tubuh ikan tampak bersih cemerlang
bau bahan kimia
dijauhi lalat
tidak cepat membusuk

Ikan asin
Ikan asin yang mengandung formalin memiliki :
warna lebih cerah,
elastis,
Bau bahan kimia
dijauhi lalat
Tidak cepat membusuk (tahan lama)

Mie Basah
Ciri mie yang telah diberi formalin :
tidak mudah basi
mengeluarkan zat yang bisa membuat mata pedih serta bau menyengat.

Baso
kenyal, tidak lembek dan lengket
tahan lama, tidak mudah busuk

Konsumen vs Produsen
Bagi produsen mi basah dan bakso, pemberian formalin dilakukan demi memberi kepuasan kepada
konsumen. Biasanya konsumen menginginkan mi basah dan bakso yang agak kenyal. Jika mi mudah hancur
atau bakso lembek, itu justru membuat komoditas tersebut tidak laku. Karena itu, kami memberi beberapa
tetes formalin, kata seorang produsen bakso.
Begitu pula nelayan, sebagian di antara mereka menggunakan formalin untuk menjaga kesegaran ikan hasil
tangkapan mereka serta saat membuat ikan asin. Dampak dari penggunaan formalin memang mujarab. Ikan
segar tahan sampai tiga hari, warnanya bersih, dan lalat pun tidak mau mendekat. Adapun jika digunakan saat
pembuatan ikan asin, ikan menjadi bersih dan tahan tidak rusak sampai sebulan.
Penggunaan formalin ini, seperti kata produsen, bukan semata-mata untuk mereguk keuntungan, tetapi juga
untuk melayani keinginan konsumen. Sampai saat ini konsumen masih tetap menginginkan tahu, ikan, mi,
bakso, dan ikan asin yang tahan lama dan kenyal, tetapi harganya ingin tetap murah. Tak ada pilihan lain,
produsen pun akhirnya menggunakan formalin.
Sebenarnya bisa saja pengusaha tidak memberi formalin untuk menimbulkan efek kenyal pada tahu, mi, dan
bakso. Bahan pengawet yang direstui untuk digunakan adalah minatrid. Bahan kimia ini bisa membuat
makanan tahan lama.
Namun nyarinya susah, belum tentu ada di setiap toko kimia. Lagi pula harganya mahal, sedangkan formalin
tak sampai Rp 10.000 per liter, kata seorang pengusaha tahu.
Beberapa jenis bahan pangan juga bisa lebih tahan lama tanpa perlu dicampur dengan bahan pengawet
seperti formalin. Ikan segar, misalnya, bisa lebih tahan lama jika disimpan di dalam es, sedangkan tahu bisa
lebih awet jika dicampur sedikit larutan garam sebagaimana yang dilakukan di daerah Bandung dan
Yogyakarta.

Tips Menghindari Formalin

Kenali ciri-ciri makanan berformalin
Seberapa pun sempitnya waktu, sebaiknya Anda tetap meneliti makanan yang dibeli satu per satu.
Untuk ayam potong sebaiknya membeli ayam hidup dan langsung dipotong di tempat.
Jika membeli dalam jumlah banyak, misalnya untuk hajatan, pastikan pedagangnya layak dipercaya
———————
Sumber : IPTEKnet

One thought on “FORMALIN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s